يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

QS At -Taubah : 032

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2011

Lembaga Pembinaan Mualaf Brunei Ingin Pastikan Muslim Baru tak Sendirian

Lembaga Pembinaan Mualaf Brunei Ingin Pastikan Muslim Baru tak Sendirian

REPUBLIKA.CO.ID, BRUNEI - Setiap tahun Muslim di Brunei Darussalam menyambut anggota baru dalam komunitas mereka. Pasalnya, ratusan orang memutuskan memeluk Islam dan menjadi mualaf.

"Kami memandu mereka sehingga mereka bisa menjalankan ibadah dan ajaran Islam dalam kehidupan," ujar kepala Bagian Konservasi dan Panduan Islam dan Mualaf, Abd Aziz Hj Abd Kahar, di Pusat Dakwah Islam Brunei.

"Kami ingin agar mereka kelak menjadi Muslim utuh yang seimbang lahir batin," imbuhnya. Rupanya setiap tahun tak kurang dari 300 orang memeluk Islam di Brunei.

Tahun lalu, jumlah mualaf mencapai rekor tertinggi dengan sedikitnya 647 orang menjadi Muslim. "Kami ingin saudara dan saudari baru kami memeluk Islam menyeluruh, bukan hanya nama," ujar Abdul Kahar.

"Ada orang-orang yang terlahir Muslim tapi tidak menjalankan ibadah. Kami tak ingin seperti itu," ujarnya.

Pimpinan Muslim mengatakan para mualat diperlakukan sama dengan Muslim lain di Kesultanan tersebut. "Tak ada perbedaan dan pelabelan khusus," ujarnya.

"Kami semua sama dan banyak dari mereka (mualaf) adalah pemimpin di komunitasnya. Kami harus berbahagia dengan kesempatan ini."

Sebagai program pembimbingan, para pemimpin Muslim menyiapkan serangkaian pelatihan bagi mualaf untuk membantu mereka memenuhi ketentuan dalam Islam. "Bantuan akan diberikan kepada mereka yang membutuhkan," tutur Abd Kahar.

"Tujuannya agar tidak ada masalah bagi mualaf kami untuk menjalankan ibadah sesuai Islam," ujarnya

Setelah seseorang mengikrarkan Syahadat, mualaf akan mendapat kursus perkenalan tentang Islam selama 10 hari. "Sejak pertama mereka bersyahadat, kami sudah ada di sana untuk membantu dan memandu mereka," ujar Abd Kahar.

Dalam pelatihan itu, mualaf Brunei juga mendapat materi mengenai apa yang diizinkan dan dilarang dalam Islam. "Pelatihan ini meliputi aspek-aspek akidah, halal (baik objek maupun tindakan menurut hukum Islam) dan haram (mengacu pada perbuatan apa pun yang dilarang oleh agama) serta bersuci atau thaharah.

"Mereka akan dibekali dengna pengetahuan yang membuat mereka mampu melaksanakan kewajiban sebagai Muslim."

Pusat Dakwah juga menawarkan kursus-kursus tingkat lanjut bagi mualaf yang mencari pengetahuan lebih dalam. "Ini adalah bagian dari pembelajaran sepanjang hidup," ujarnya.

Selama Jumat dan Sabtu, Pusat Dakwah juga membuka kelas untuk menjawab semua pertanyaan tentang Islam. "Di kelas ini mereka bisa menyuarakan pertanyaan atau pemikiran dan ganjalan," papar Abd Kahar.

Ia mengatakan semua upaya tadi demi membantu para mualaf memperkuat keyakinan mereka dan perbuatan baik. "Para non-Muslim melihat bagaimana Islam dipraktekkan sehari-hari di Brunei," ujarnya. "Agama ini tertanam dan menjadi bagian dari kehidupan kami. Inilah yang membuat mereka berpikir tentang keindahan Islam dan nilai-nilai di dalamnya.

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron

Selengkapnya...

Chauncey Lamont Hawkins : Kaya, Tenar, tak Bahagia, Rapper AS Mengaku Damai dalam Islam

Kaya, Tenar, tak Bahagia, Rapper AS Mengaku Damai dalam Islam                                                                     REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI – Dalam pencarian hampir putus asa terhadap kebahagiaan, kehidupan mantan penyanyi rap AS, Chauncey Lamont Hawkins yang menikmati kemewahan dari ketenaran dan uang, berubah total. Perubahan itu terjadi setelah ia melakukan kunjungan ke salah satu kota Teluk, Abu Dhabi.

"Saya datang ke sini sebagai rapper dan kemudian menjadi Muslim," ungkap Hawkins yang telah mengubah namanya menjadi Amir Junaid Muhadith, kepada Forum Ramadhan, di Dubai.

Amir adalah salah satu rapper top AS sekaligus mantan anggota P. Diddy's Bad Boy Records, di mana ia melepas debut album self-titled, 'Loon'. Namun, meski menikmati ketenaran dan kemewahan, ia mengaku tak menemukan kebahagiaan.

"Saya memiliki semuanya," ujarnya.

"Saya keliling dunia, memiliki mobil-mobil mewah, berlian. Mungkin sedikit kecandun di awal, namun saya tak pernah bahagia," ujarnya.

Saat melakukan kunjungan ke Abud Dhabi pada 2008, rapet Amerika ini tertarik dengan bagaimana Muslim bersikap dan memperlakukan satu sama lain. Semua yang ia saksikan menyapu pandangannya yang dipengaruhi media bahwa Muslim penuh kekerasan

"Bagaimana Muslim berperilaku itulah yang menarik saya kepada Islam." ujarnya. "Saya terinspirasi oleh budaya Muslim dan saya mengagumi kemurnian moral mereka, perlakuan baik kepada orang-orang dan khususnya rutinitas teratur shalat lima waktu setiap hari," tuturnya.

Kini setelah memeluk Islam, Amir pun tetap keliling dunia, namun kali ini untuk menginspirasi orang. Ia telah melakukan tur ke beberapa negara dan kot seperti Fort McMurray, Alberta, Kanada, untuk membagi kisahnya mengejar kebahagiaan menuju Islam.

"Kembali ke kesederhanaan, itulah esensi Islam," kata mantan rapper yang kini bertutur kata halus.

"Itulah alat anda menuju kebahagiaan,"

Saat memeluk Islam, Amir mengatakan, ia menemukan kedamaian yang tak pernah ia temukan di kehidupan sebelumnya. "Perubahan positif dalam hidupnya ikut menarik istri dan putranya untuk ikut beralih ke Islam.

"Masa 'Bad Boys' sudah selesai," ujar Amir. "Kini anda bisa memanggil saya 'good boy'"
                       (Hawkins saat masih menjadi penyanyi rap dan belum memeluk Islam)

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
Selengkapnya...

Subhanallah!! Berkah Ramadhan, 76 Kristen Filipina Masuk Islam



DUBAI (voa-islam.com) – Berkah dan hidayah Ramadhan menyapa para muallaf. Sebanyak 76 penganut Kristen Filipina mengikrarkan dua kalimat syahadat dalam Forum Ramadhan di Dubai, Sabtu lalu.
Rodelito, seorang warga negara Filipina yang merupakan penganut Kristen, mengenakan pakaian terbaiknya untuk menyaksikan perubahan hidupnya sendiri yang telah membulatkan tekad masuk Islam. Rodelito merupakan salah satu dari 76 warga Kristen Filipina yang masuk Islam.

Peristiwa besar tersebut berlangsung dalam acara Forum Ramadhan yang digagas Departemen Pariwisata dan Bagian Pemasaran Dubai pada Sabtu (13/8/2011). Dengan nada yang agak gugup, Rodelito dengan tegas mengucap dua kalimat syahadat, yang menjadi pembuka seorang menjadi Muslim, di atas panggung.
Ia pun langsung berganti nama menjadi Omar Penalber. Tak lama, seorang penceramah Filipina menuju ke arah mikrophone dan meneriakkan 'takbir'. Mendengar ajakan tersebut, para saksi yang hadir dalam acara tersebut merespon teriakan tersebut dengan mengucap 'Allahu Akbar.'

Banyak dari para muallaf bertanya-tanya terkait isu-isu sosial seperti kenapa seorang Muslimah harus mengenakan Jilbab. Bagi mereka yang telah memeluk Islam juga mendapat sedikit bingkisan berupa, sebuah jam yang dapat mengumandangkan azan saat shalat lima waktu tiba, sajadah dan parfum.

Rodelito mengatakan bahwa dirinya telah berpikir panjang atas keputusannya untuk masuk Islam. "Saya merasakan sangat baik," ujarnya dengan menatap seraya menaruh tangannya di dadanya. [taz/rpb, abn]

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
Selengkapnya...

Minggu, 14 Agustus 2011

Mualaf Elena Pouliasi Sempat Salah Duga tentang Kehidupan Muslimah


  Mualaf Elena Pouliasi Sempat Salah Duga  tentang Kehidupan Muslimah
REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA - Melihat penampilannya sekarang, tak ada yang menyangka gadis yang tumbuh di lingkungan kelas menengah Yunani ini belum pernah bersinggungan dengan islam sampai ia menginjak usia 20-an tahun. Elena Pouliasi, kini anggun dalam balutan busana Muslimah. Ia bersyahadat setahun lalu dengan mengambil risiko yang sangat besar, pecahnya hubungan dengan keluarga besarnya. "Setidaknya, orang tua saya tahu saya 'jatuh' ke arah kebenaran, bukan ke jurang narkoba," ia trsenyum menuturkannya.

Elena mengenal Islam jauh dari negerinya, di Inggris. Ia terbang ke negara itu untuk melanjutkan pendidikan, tiga tahun lalu.

Di negara ini, populasi Muslim populasi Muslim cukup banyak. Ia kerap bersinggungan dengan mereka baik di kampus atau di sekitar tempat ia tinggal di London.

"Seperti kebanyakan orang Yunani, aku tumbuh dengan mentalitas bahwa Muslim adalah orang-orang yang ketat dan tertindas. Aku melihat wanita dengan jilbab dan aku prihatin. Mereka sungguh tak punya kehidupan," ia menceritakan apa yang ada dalam pikirannya saat sebelum berislam.

Namun makin dekat dengan mereka, Elena menemukan kondisi yang berbeda. Dua sahabatnya di London berasal dari Arab Saudi - ia menggambarkan mereka sebagai sangat cerdas dan berbakat - dan apa yang dibayangkannya tentang ketertindasan sangat jauh dari kenyataan.

"Mereka secara alami mengenakan jilbab.Tapi mereka sungguh independen," katanya.

Elena mulai mencari tahu tentang Islam. Ia juga kerap membaca Quran dalam terjemahan bahasa Yunaninya. "Aku mulai menyadari bahwa aku keliru selama ini. Aku melihat, sebagai contoh, cinta dan menghormati wanita dan ibu adalah utama dalam Islam," katanya.

Ia makin larut belajar Islam. "Hampir tidak sadar aku berhenti minum dan makan daging babi," katanya.

Proses ini berlangsung sekitar delapan bulan. "Aku merasa aku mulai hidup sebagai seorang Muslim. Aku berhati-hati saat aku pergi, aku lebih berhati-hati dengan pakaian yang kupakai, aku berhenti bersumpah serapah, dan menjadi lebih murah hati dan sopan," katanya.

Pada 15 Mei tahun lalu, ia resmi menjadi seorang Muslim. Jilbab sempat menjadi hal yang dikhawatirkannya. Pada awalnya, ia mengenakan jilbab ketika ia di keluar kantor, tapi begitu masuk halaman kantornya, ia buru-buru melepaskan dan menyimpannya di dashboard mobilnya. Namun, kini ia konsisten mengenakannya, apapun risiko yang dihadapi. Elena kini memiliki kantor sendiri, sebuah biro penerjemah resmi.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Kathimerini.gr 
 
Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
 
Selengkapnya...

Beban Sejarah Membuat Mualaf Yunani Harus Sembunyikan Agama Barunya

Beban Sejarah Membuat Mualaf Yunani Harus Sembunyikan Agama Barunya                                                              REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA - Yunani punya hubungan yang tak mengenakkan dengan Turki di masa lalu. Imbasnya, segala hal yang berbau Turki membuat publik Yunani alergi, termasuk agama Islam.

Bahkan, seperti dikatakan Tina Stylianidou, yang setelah menjadi Muslim memutuskan pindah ke negara lain, sejak kanak-kanak, rasa benci itu sudah ditanamkan. "Tak hanya benci Turki, mereka juga diajarkan benci Islam," katanya.

Yunani - yang diduduki oleh Turki selama lebih 400 tahun - mengajarkan padanya untuk percaya bahwa untuk setiap kejahatan yang dilakukan terhadap orang-orang Yunani, Islam yang bertanggung jawab. Bahwa Turki adalah Muslim dan kejahatan mereka mencerminkan keyakinan agama mereka. "Jadi selama ratusan tahun kami diajarkan dalam sejarah kami dan buku-buku agama untuk membenci dan mengolok-olok Islam," tambahnya.

Di sekolah, ia mendapat pelajaran bahwa Islam sebenarnya bukan agama dan Muhammad  adalah bukan seorang nabi. "Dia hanya seorang pemimpin yang sangat cerdas dan politisi yang mengumpulkan sejumlah aturan dan hukum dari orang-orang Yahudi dan Kristen, menambahkan beberapa ide sendiri dan menaklukkan dunia." Hampir di semua jenjang, pelajaran tak resmi yang diberikan adalah: membenci Islam.

Dalam situs komunitas online global Muslim Yunani, sebagian besar mualaf Yunani membuat keputusan sadar memeluk Islam di luar negeri. Hanya segelintir yang berislam di negerinya. Itupun dengan catatan, mereka menyembunyikan keyakinan barunya dari keluarga mereka di tanah air asalnya.

"Ini adalah jalan, pengalaman sulit untuk mengubah agama Anda menjadi Muslim di sini," ujar pria yang minta hanya ditulis sebagai profesor "K", pakar Filsafat Perbandingan di Universitas Athena.

Di Yunani, katanya, ada tradisi mengelu-elukan Muslim yang murtad namun tidak sebaliknya, pada mualaf. Banyak Muslim setiap tahun dibaptis menjadi Kristen Ortodoks di gereja-gereja mereka, sebagian karena alasan pernikahan.

Sebaliknya, mualaf akan dihujat oleh komunitasnya, bahkan tak jarang diusir dari lingkungannya dan keluarganya dikucilkan.

Maka tak ada pilihan, mualaf asal Yunani memilih untuk menyembunyikan keislamannya, demi menjaga keluarga besarnya. Atau seperti pilihan yang diambil Tina Stylianidou dan mualaf lain; mencoba peruntungan baru dengan berpindah ke luar negeri.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
 
Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
Selengkapnya...

Kisah Sulaiman, Atheis yang Menemukan Islam Lewat Ramadhan


Kisah Sulaiman, Atheis yang Menemukan Islam Lewat Ramadhan                            REPUBLIKA.CO.ID,REPUBLIKA.CO.ID, Ketika Sulaiman, pertama kali datang ke Bahrain, ia mengharapkan bisa menemui adat-istiadat Timur Tengah. Ternyata harapannya sulit terwujud.

Sebalinya, Sulaiman menemui dirinya dikelilingi orang asing dari berbagai macam kebangsaan dan keyakinan. Mereka di sana untuk bekerja, untuk mencapai cita-cita masing-masing. "Itu bukan yang saya harapkan, bukan budaya yang ingin saya jumpai," ujarnya.

Jadi, untuk beberapa waktu, Islam tertutupi dari orang-orang yang datang ke Teluk. Bagi Sulaiman, dalam beberapa waktu hidupnya ia tidak menemukan apa pun tentang Islam.

"Saya mendengar Adhzan dan saya pikir ini sangat indah," ungkapnya. Sulaiman sempat bertanya apa makna kata-kata tersebut. Orang-orang pun memberitahunya. Namun sejauh itu, semua hanya informasi. "Yang terasa bagi saya sekedar turisme," tuturnya.

Ramadan di Turki


Sepuluh tahun lalu setelah ia bepergian ke Bahrain menuju Shorjah, lalu Irak, akhirnya ia sampai di Turki, di mana ia menemukan sesuatu yang berbeda. "Itu bukan berarti Islam terlihat lebih baik dan lebih agung di Turki, tidak sama sekali. Faktanya, secara menyedihkan Islam di Turki di tekan di banyak aspek," ungkapnya.

Saat berada di negara itu, Sulaiman menemukan banyak hal luar biasa, salah satunya arsitektur Islam dari periode Ottoman yang ia anggap sangat indah. "Tak butuh waktu lama hingga saya bisa mengenal orang-orang di Turki dengan baik," tuturnya.

Lalu tibalah Ramadhan, sesuatu yang ia saksikan berulang kali di Teluk dan lewat begitu saja, tak ada yang berkesan. Tapi di Turki Sulaiman merasakan hal berbeda. "Saya merasakan sesuatu yang lin. Segera saya sadari bahwa mereka yang berpuasa saat Ramadhan adalah orang-orang yang saya kenal dan saya sukai.

Saat itu ia melihat ada hubungan gamblang antara orang-orang terbaik dengan orang yang berpuasa. Ini menunjukkan pada saya sebagian dari Muslim terbaik dan saya pun tertarik dengan mereka.

Sulaiman tak sekedar tertarik ikut dengan aktivitas mereka. ia pun mulai berpuasa saat Ramadhan meski saat itu ia bukanlah Muslim. "Sungguh membahagiakan di banyak hal, memang sangat menantang di sisi lain, namun sangat menyenangkan," tuturnya.

Sulaiman mengaku menikmati puasa. "Terutama di saat menunggu Adhzan Maghrib dan ketika menunggu dengan diam dan tenang bersama orang-orang lain yang berpuasa sepanjang hari," akunya.

Mereka, meski berpuasa tetap bekerja karena seperti negara bermayoritas Muslim lain, di Turki pun aktivitas publik dan pekerjaan jalan terus. Kenyataan itu memikat Sulaiman, orang-orang berpuasa sepenuhnya dari awal hari hingga senja dan tetap bekerja sepanjang hari.

"Saya juga melakukan itu dan sangat sulit, namun alhamdulillah saya berhasil," ungkapnya. Ia pun terkesan dan merasa melakukan prestasi besar. "Pengalaman itu menginspirasi saya untuk lebih banyak mengkaji Islam," ujarnya.

Membaca Al Quran


Pertama kali membaca ayat-ayat dalam kitab suci Islam, Sulaiman mengaku terpukau. "Karena saya tidak menemukan sesuatu yang asing dalam buku ini," tuturnya.

Ia mendapat terjemahan Al Quran pertamanya saat mulai dekat dengan komunitas Muslim. Kitab suci yang ia terima adalah versi terjemahan Yusuf Ali sehingga ia mampu membaca arti dalam Bahasa Inggris dan memahami maknanya.

Pertama kali membaca ayat-ayat dalam kitab suci Islam, Sulaiman mengaku terpukau. "Karena saya tidak menemukan sesuatu yang asing dalam buku ini," tuturnya

Rupanya ia berpikir kitab itu akan dipenuhi oleh hal-hal berbau mistisisme ketimuran. "Mungkin seperti hal-hal yang orang Barat bisa imajinasikan. Tapi tidak, faktanya saya menyimpulkan isinya jauh berbeda dengan Injil," ujarnya.

Sulaiman mengaku tak pernah bisa memahami Injil. "Injil bagi saya, memiliki banyak kontradiksi, cerita-cerita ganjil yang sepertinya tidak mengadaptasi atau mengantarkan pesan-pesan Kristus," ujarnya. Ia melihat pesan-pesan Yesus tak tercermin di Injil kecuali di beberapa bagian.

Ia pun mengkaji kontradiksi itu lebih dekat dan akhirnya memahami alasannya. "Namun itu bukan lagi hal penting, yang terpenting Al Quran-lah yang sepenuhnya masuk akal,"

Selain membaca Al Qur'an, Sulaiman juga membaca biografi Rasul, kisah kehidupan Nabi Muhammad yan ternyata sungguh menginspirasinya. "Ini sangat menarik karena pria ini adalah pria besar dalam sejarah dan itu fakta. Sesuatu yang bisa saya hubungkan dengan ketertarikan Barat terhadap logika," ujarnya.

Sulaiman terus mengikuti kata hatinya yang kian cenderung pada Islam. "Namun masih belum ada orang yang melakukan dakwa serius kepada saya, tak seorangpun mencoba meyakinkan saya bahwa saya harus berganti jalan menuju jalan lain," ujarnya.

Padahal saat itu keterlibatan Sulaiman dengan kegiatan Islam di komunitas Muslim sudah terlihat. "Jadi saya bisa menyebut diri 'pelajar Islam yang abstrak'. "Saya sebenarnya saat itu bisa saja mengambil studi kajian tentang Islam. Namun itu tak ada nilainya bila anda tak berniat melakukan sesuatu dengan itu, dan sayangnya saya tidak," tutur Sulaiman.

Kembali ke Dubai

Setelah saya kembali dari Turki ke Dubai, oleh Allah Sulaiman ditakdirkan untuk bekerja dengan orang istimewa. "Orang ini yang dulu adalah bos saya kini menjadi sahabat terbaik saya," ujarnya.

"Malam seusai kerja kami akan berdiskusi sambil makan malam. Mungkin juga ketika saat di kantor. Ia akan membantu saya mempelajari hal-hal yang benar dan mengajak saya bertemu orang-orang yang tepat. Ia juga mencoba menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan saya sebaik yang ia bisa," tutur Sulaiman.

Namun, si kawan masih bisa melihat semua keberatan Sulaiman terutama berkaitan dengan logial. "Semua pertanyaan tentang adat dan praktek-praktek ibadah, semua ini keluar dari bawaan sekuler," ungkapnya. Sulaimen mengaku tak pernah benar-benar menjadi seorang Kristen. "Saya hanyalah orang yang agnostik (percaya tuhan tapi tidak percaya agama).

Semua telah digariskan. Setahun kemudian beberapa pria datang padannya, Muslim Eropa. Mereka pengusaha yang tengah memulai proyek besar. Mereka ingin mengenalkan dinar emas Islam sebagai mata uang Muslim. Hingga kini, itu adalah keinginan dan tujuan besar.

Si bos berbicara kepada Sulaiman, "Hei kamu orang keuangan, bagaimana menurutmu tentang ini?" Orang-orang itu adalah Muslim Kaukasia Eropa yang mencoba mengusung aspek praktis tentang islam. Gagasannya, anda tak bisa membayar zakat kecuali dengan dinar emas. Meski ada lima rukun Islam tapi anda mesti menemukan satu alat tepat.

Ia bertanya pada Sulaiman, "Bagaimana menurutmu tentang ide ini?". Sulaiman saat itu telah belajar tentang Islam dan mengetahui maksud rukun tersebut.

Ia menjawab, "Omong kosong, itu tak bisa dilakukan, tak ada yang bisa menguasai sistem keuangan internasional dan itu akan gagal."

Si bos balik menjawab, "Baiklah, mengapa kamu tak kemari dan mengatakan kepada mereka tentang itu."

Sulaiman saat itu dalam mood yang jelek dan sekedar berkata, "Ya tentu, saya akan katakan pada mereka."

Ia diajak sang bos pergi dan bertemu para Muslim Eropa dengan gagasan tadi.

Muslim Eropa dan Syahadatku

Ternyata mereka tak hanya menjawab pertanyaan Sulaiman dari sudut pandang agama, namun mereka juga menjawab dari sudut panjang logika dan ilmiah.

Mereka berkebangsaan Spanyol dan Jerman dan berbahasa Inggris dengan baik. Mereka sangat berpendidikan, bijak dan pengkaji Islam yang beralih menjadi Muslim sekitar 10 atau 20 tahun sebelumnya. Pengetahuan mereka tentang Islam, menurut Sulaiman, sangat besar. "Hingga kini mereka masih melakukan dakwah di penjuru dunia," tuturnya.

Mereka pun berdiskusi. "Kami pergi ke restoran untuk berbincang dan berbincang."

Saat itu Rabu malah di tengah pekan tepat pukul 1.00 dini hari. Mereka berkata pada Sulaiman. "Jadi apakah kamu masih memiliki pertanyaan lagi?"

"Tidak...saya tak punya, saya sudah kehabisan pertanyaan," balas Sulaiman. Merka balik merespon "Kini apa, apakah anda akan menerima Islam?"

"Apa yang bisa saya katakan, saat itu saya hanya bisa menjawab 'Ya'," kata Sulaiman menuturkan situasi malam itu.

Mereka pun mengundang Sulaiman datang ke rumah pada Jumat berikut, dua hari lagi. Saat tiba di sana, rumah dalam kondisi dipersiapkan sangat baik. "Mereka memberi saya pelajaran dan anjuran terakhir, hal-hal yang perlu saya ketahui tentang shalat, wudhu, dan kami pun pergi ke Masjid Jumairah di mana saya mengucapkan syahadat," kenang Sulaiman

Pengalaman berharga yang saat itu ia terima, segera saja ia memiliki ribuan saudara. Mereka memeluk Sulaiman dan bahagia. "Saya tak pernah melihat begitu banyak wajah bahagia, tidak, tak saat di pesta ulang tahun saya, tidak saat perkumpulan Kristen juga dalam pertemuan lain, Di sini banyak orang bahagia dan mereka semua bahagia untuk saya,"

Kini video penuturan Sulaiman bisa diakses di YouTube. Dalam cuplikan itu, Sulaiman berkata, "Kepada mereka yang lahir sebagai Muslim, alhamdulillah anda benar-benar diberkati dan saya hanya berharap anda selalu menghargai dan memperlakukan pemberian itu sebagai hadiah lahir yang sangat besar, yang indah luar biasa.

Bila anda adalah orang yang beralih menjadi Muslim seperti saya, maka selamat pula, alhamdulillah dan selalu bersyukurlah. Saya yakin apa pun kisah anda, apakah itu penemuan tiba-tiba atau penuh dengan argumen menyiksa seperti jalan saya, itu adalah kisah indah dan saya harap telah menuntun anda ke jalan benar.

Bila anda bukan seorang Muslim, lalu saya harus berbagi kepada anda. Lihatlah saya sekarang, hanya seorang pria tua jelek, tapi saya bahagia, lebih bahagia dari sebelumnya dan lebih puas dan lapang ketimbang saya yang pernah ada. Semua keraguan dan ketakutan, semua keinginan dan kerinduan untuk material bodoh, yang fana, tak peduli apa yang saya kumpulkan setelah 70, 80 atau 90 tahun--bila saya beruntung bisa hidup selama itu--akan saya berikan. Saya akan menukarkan itu untuk sesuatu yang abadi.

Saya tidak akan menggurui anda bila anda tak mau mendengar, maka tak anda tak harus mendengar. Hanya, lihatlah apa yang ada di wajah saya. Saya bahagia dan anda dapat bahagia pula, ini sesuatu yang anda perlu pertimbangkan, semoga anda mempertimbangkan


Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron

Selengkapnya...

Tina Stylianidou : Pernah Membuat Karikatur Mengolok-Olok Rasulullah, Tina Stylianidou Berislam Setelah Baca Shirah Nabi

Pernah Membuat Karikatur Mengolok-Olok Rasulullah, Tina Stylianidou Berislam Setelah Baca Shirah Nabi                                                                         REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA - Dulu, Keluarga Tina Stylianidou terkenal sebagai keluarga terpandang keturunan Yunani di Turki. Ketika pemerintah Turki memutuskan untuk menendang mayoritas warga negara Yunani keluar dari Turki dan menyita kekayaan mereka, keluarganya kembali ke Yunani dengan tangan kosong. Inilah yang melandasi keluarganya sangat antipati pada Islam.

Dari sisi keluarga ibunya, mereka tinggal di sebuah pulau di Yunani yang persis berbatasan dengan Turki. Selama perang,  Turki menduduki pulau dan membakar rumah-rumah mereka. Jadi mereka melarikan diri ke daratan Yunani untuk bertahan hidup. "Tak hanya benci Turki, mereka juga benci Islam," katanya.

Yunani - yang diduduki oleh Turki selama lebih 400 tahun - mengajarkan padanya untuk percaya bahwa untuk setiap kejahatan yang dilakukan terhadap orang-orang Yunani, Islam yang  bertanggung jawab. Bahwa Turki adalah Muslim dan kejahatan mereka mencerminkan keyakinan agama mereka. "Jadi selama ratusan tahun kami diajarkan dalam sejarah kami dan buku-buku agama untuk membenci dan mengolok-olok Islam," tambahnya.

Di sekolah, ia mendapat pelajaran bahwa  Islam sebenarnya bukan agama dan Muhammad  adalah bukan seorang nabi. "Dia hanya seorang pemimpin yang sangat cerdas dan politisi yang mengumpulkan sejumlah aturan dan hukum dari orang-orang Yahudi dan Kristen, menambahkan beberapa ide sendiri dan menaklukkan dunia."

Salah satu tugas dari sekolah, adalah membuat olok-olok tentang dia dan istrinya atau sahabatnya. Ia pun mengerjakan tugas itu dan menerjemahkannya menjadi sebuah karikatur yang diacungi jempol oleh guru-gurunya.  "Semua karikatur dan fitnah terhadap dirinya yang diterbitkan di media hari ini sebenarnya merupakan bagian dari kurikulum kami," katanya.

Tetapi, aku Tina, Allah melindunginya sehingga kebencian terhadap Islam, tidak masuk hatinya. Sebagai seorang remaja, dia suka  membaca dan  tidak benar-benar puas atau yakin dengan kekristenannya. "Saya memiliki kepercayaan pada Tuhan, rasa takut dan mencintai Dia, tetapi untuk hal-hal yang lain bingung. Saya mulai mencari-cari tapi saya tidak pernah mencari terhadap Islam, mungkin karena latar belakang saya menentangnya). Tapi pada akhirnya, Allah mengasihani jiwa saya dan menuntun saya dari kegelapan menuju cahaya kebenaran - Islam - tunduk hanya kepada Satu Allah."

Di tengah kebimbangan, ia dipertemukan dengan seorang pemuda yang telah lebih dulu memutuskan menjadi Muslim. Dari dialah, ia belajar Islam lebih dalam. termasuk, membaca secara lengkap Shirah nabawiyah, sejarah rasulullah Muhammad SAW. Belakangan, ia menerima pinangan pemuda itu dan bersyahadat.

"Menjadi seorang Muslim, saya  merahasiakannya dari keluarga dan teman-teman selama bertahun-tahun. Kami tinggal bersama suami saya di Yunani berusaha mempraktikkan Islam tapi itu sangat sulit - hampir mustahil," katanya.

Di kotanya, tidak ada masjid, tidak ada akses ke studi Islam, tidak ada orang berdoa, berpuasa, atau perempuan memakai jilbab (penutup kepala Islam). Yang ada hanya beberapa imigran Muslim yang datang ke Yunani hanya demi alasan ekonomi, dan tidak begitu peduli dengan kehidupan spiritualnya. "Bahkan, mereka lebih Barat ketimbang kami yang orang Barat," katanya.

Dia dan suaminya, harus shalat buru-buru, agar tak diketahui orang. Mereka menandai kalender dengan tanda-tanda tertentu, agar sesuai dengan kalender Hijriyah; terutama Ramadhan dan Dzulhijah.

"Ketika putri saya lahir, kami memutuskan untuk bermigrasi ke sebuah negara Muslim. Kami tidak ingin membesarkannya di lingkungan di mana dia akan berjuang untuk mempertahankan identitas Muslimnya, atau bahkan lebur bersama mereka," katanya.

Sekarang, empat tahun sudah mereka tinggal di Turki. "Saya kerap merasa sangat rindu rumah, dan bertanya-tanya apakah sudah waktunya untuk kembali ke Yunani, negara yang indah dimana saya dilahirkan dan mencoba menemukan cara untuk menggabungkan identitas indah dan budaya nenek moyang Yunani  serta identitas Islam saya. Tapi saya merasa bangga dan bersyukur kepada Allah bahwa saya dapat menjadi warga Yunani dan Muslim yang baik," katanya.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: © Muslim Association of Greece
 
Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
 
Selengkapnya...

Kamis, 11 Agustus 2011

Charles Evers: Masuk Islam Setelah Jadi Korban Pelecehan Seks Pastur



DUBAI (voa-islam.com):  Skandal pedofil atau pelecehan seksual anak di bawah umur dalam tubuh gereja Katolik merusak kepercayaan panganut agama Katolik.
Charles Evers, seorang korban pelecehan yang dilakukan oleh pater Katolik, telah menjadi penganut agama Islam dan mengganti namanya menjadi Yusuf. "Katolik adalah kepercayaan yang mengerikan" tuturnya. Laporan Tijn Sadée en Robert Chesal.
Ke Mook
Dengan kegetiran yang sama, Yusuf Charles Evers, 59 tahun, mengikuti berita tentang skandal pelecehan seksual dalam tubuh gereja Katolik. "Apa yang telah terjadi sungguh mengerikan. Tapi saya sudah lama menyimpulkan agama Katolik itu gak beres." tuturnya.
Saat dia berusia dua belas tahun, Evers dikirim orang tuanya ke Gabriël College di Mook, Limburg. Sekarang dia tinggal di Dubai dan punya perusahaan sendiri yang menjual pakaian tradisional Islam. Pada tahun 1992 dia beralih menjadi penganut Islam dan mengganti namanya menjadi Yusuf. Untuk pertama kalinya dia berbicara tentang masa mudanya di Mook.
Korban
"Pater yang mengajar bahasa Latin, satu hari bertanya apa saya bisa membantunya membawakan beberapa buku. Saya harus membawanya ke gudang. Saat saya masuk, pater itu menutup pintu. Aneh. Saya tidak tahu sama sekali mengenai seks. Lalu dia bilang:"Ayo, ayo" dan dia memegang tangan saya dan meletakkan tangan saya diatas alat kelaminnya. Saya merasa ada sesuatu yang basah kental di tangan saya dan saya merasa jijik. Saat saya keluar dari gudang, beberapa anak berdiri di luar dan menertawakan saya. Mereka berkata:"Sekarang kamu korbannya."
Kesaksian Yusuf Evers dipandang unik dalam debat mengenai pemimpin agama pedofil, yang hingga saat ini tidak dicampuri kelangan muslim.
Pertanyaan Rasa Bersalah
"Jangan menipu diri" kata profesor Sami Zemni, pakar politik Islam Universitas Gent. "Jika kelompok rohaniawan menyebabkan skandal, maka institut gereja akan jatuh, tapi kekristenan tetap aman. Sebaliknya: jika seorang muslim melakukan hal yang salah, dan para fobia islam berseru Islam itu salah secara keseluruhan dan Al-Quran harus dibakar."
Zemni tidak sependapat bahwa skandal pedofil akan mengubah gambaran bahwa agama islam itu kejam dan agama kristen itu beradab. "Saya pikir debat ini akan berakhir dengan pertanyaan rasa bersalah. Gereja akan menangani masalah dan menutupi tuduhan, seperti yang selama ini selalu dilakukan."
Setan
"Memang apa yang terjadi di gereja katolik sangat memprihatinkan, tapi kita tidak mau dikait-kaitkan" demikian argumen seorang imam terkenal asal Belgia yang menolak memberi pendapat untuk penulisan artikel ini. Juga beberapa pemuda pemudi pemeluk agama Islam, yang dulunya dididik sebagai Katolik tapi menjadi Islam, menolak memberi komentar.  
Membakar Sekolah
Puluhan tahun setelah emigrasinya ke Dubai, Yusuf Evers mengunjungi keluarganya di Belanda, dan melewati gedung sekolah lamanya di Mook. "Saya sudah sering bermimpi membakar gedung ini. Tapi saat ini gedungnya sudah dirubuhkan. Hanya gedung depannya masih berdiri. Saya ingin sekali merusaknya dengan tangan saya sendiri."
Dia tidak pernah bercerita pada orang tuanya mengenai pelecehan seksual yang dia alami. "Mereka pasti juga tidak ingin mendengarnya."
Jadi dia sendirian menghadapi traumanya. "Saya masih dengan jelas bisa mengingat bahwa saya harus melaporkan kejadian itu pada pemimpin pater. Saya masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu dan terkejut dengan apa yang saya lihat: pemimpin pater itu sedang duduk di atas meja dengan kedua kaki terbuka lebar, dan seorang pater sedang memberikan oral seks kepadanya."
Pengalaman Yusuf membuat dia menjadi seorang mualaf. "Ya, tentu saja. Jika saya mengingat kembali Gabriël College seluruh tubuh saya merinding. Itu adalah sebuah kepercayaan yang mengerikan." (za/RNW)

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron

Selengkapnya...

Kamilia Shehata : Masuk Islam, Istri Pendeta Koptik Mesir Disekap di Biara



KAIRO (voa-islam.com): Puluhan Muslim Mesir melakukan protes pada hari Selasa pada saat dilangsungkan sidang di pengadilan dengan kasus istri seorang pendeta yang telah masuk Islam namun sekarang sedang disekap oleh Gereja Kristen Koptik.

Saksi mata mengatakan aksi protes tersebut ditujukan kepada Dewan Negara untuk menuntut pembebasan istri pendeta bernama Kamilia Shehata. Gugatan kepada pengadilan menyebutkan bahwa gereja telah menculik Shehata setelah dia masuk Islam.

Para pengunjuk rasa memegang spanduk bertuliskan "Perdana menteri, mana Kamilia?"

Sumber Yudisial mengatakan pengadilan memutuskan untuk menunda gugatan tersebut sampai 19 April sambil menunggu dokumen pendukung.

Kamilia Shehata telah menghilang selama lima hari di bulan Juli di Governorat Minya. Para aktifis Koptik malah mengadakan serangkaian protes di Mesir dan menuduh umat Muslim telah melakukan penculikan dan memaksanya untuk masuk Islam.

Sementara itu, Shehata ditemukan di rumah temannya. Kemudian terungkap bahwa ia rela meninggalkan rumahnya sendiri setelah terjadi konflik dengan suaminya yang pendeta. Gereja Koptik membantah bahwa Shehata telah masuk Islam.

Namun, pernyataan dari Gereja gagal mengakhiri protes yang telah dilakukan di sejumlah masjid-masjid, yang menyerukan pembebasan Shehata dan menyatakan gereja telah menyekap wanita tersebut di sebuah biara. [Za/almasryalyoum]

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron

Selengkapnya...

18 Jemaat Ahmadiyah Cimahi Bertobat Masuk Islam



BANDUNG (voa-islam.com) – Setelah sekian lama menunda keingingan masuk Islam, akhirnya 18 orang jemaat Ahmadiyah bersyahadat di Mesjid Agung Kota Cimahi, Rabu (30/3/2011).
Sebanyak 18 dari 220 Jemaat Ahmadiyah Kota Cimahi, Jawa Barat, bersyahadat masuk Islam. Prosesi pertobatan tiga keluarga Ahmadiyah itu berlangsung di bawah bimbingan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Cimahi, Hilmi Rifai.
Suasana prosesi pertobatan yang berlangsung kurang dari satu jam itu tampak khidmat, hanya diwakili Iming, 40, tokoh jemaat Ahmadiyah Kota Cimahi. Ia membaca ikrar dua kalimat syahadat disaksikan langsung Wali Kota Cimahi Itoc Tochija serta beberapa perwakilan ormas Islam.
Dari 18 mantan Jemaat Ahmadiyah, sembilan di antaranya masih berstatus pelajar, dan anak-anak di bawah umur. Mereka merupakan anak dan cucu, pengikut Ahmadiyah yang bertobat.
Iming, mengatakan ke-18 jemaat Ahmadiyah, murni keinginan sendiri.
"Sebenarnya, ke-18 jemaat Ahmadiyah sudah lama ingin bertobat. Namun, baru terlaksana hari ini," tuturnya.
Iming membantah bahwa ada unsur paksaan dalam pertobatan ini. "Kami menjamin, tidak ada unsur paksaan. Anda bisa tanya langsung ke yang bersangkutan. Dan, harus diingat, ini menyangkut agama, sehingga tidak ada yang namanya main-main," jelasnya.
Ketua Dewan Syuro Front Umat Islam (FUI) Kota Cimahi, Hilman Firdaus, menjelaskan jemaat Ahmadiyah yang bertobat tidak mau diekspos sehingga hanya seorang perwakilan yang hadir dalam prosesi pertobatan. Sementara 17 jemaat Ahmadiyah lainnya  berikrar masuk Islam di tempat terpisah.
"Karena alasan keamanan, 17 jamaah Ahmadiyah lainnya tidak dihadirkan. Namun mereka sudah membaca syahadat di depan kami (FUI) serta perangkat desa setempat. Sehingga saat ini yang hadir hanya satu orang secara simbolis, di hadapan Muspida Kota Cimahi," jelas Hilman.
Hilman mengatakan, dari 18 jemaah Ahmadiyah yang bertobat tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda, dua di antaranya masih di bawah umur.
"Ada beberapa latar belakang yang mempengaruhi warga Ahmadiyah, masuk ke dalam ajaran tersebut. Mulai dari ikut mertua, orang tua serta alasan himpitan ekonomi. Bahkan yang saat ini kita ajak kembali ke ajaran Islam, berlatar belakang pendidikan yang cukup," ujar Hilman. [gin]
Ia juga siap melindungi mantan jemaat Ahmadiyah yang merasa tidak nyaman, serta untuk mengantispasi adanya tekanan dari pihak manapun pascabertobat.
"Kami akan terus berupaya secara persuasif terhadap jemaat Ahmadiyah lainnya untuk kembali ke jalan yang benar," ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Cimahi Itoc Tochija mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk berbaur dan menjaga persaudaran dengan para mantan Ahmadiyah itu. "Mereka jangan dianggap orang asing. Kita harus meningkatkan dan membangun ukhuwah Islamiyah," singkat Itoc. [taz/mic, inl]

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron

Selengkapnya...

Allahu Akbar!! 80 Ribu Warga Amerika Masuk Islam Setiap Tahun



NEWYORK (voa-islam.com): DR Fadel Sulaiman Direktur Jenderal Yayasan Penjembatan Bagi Pengenalan Islam di Amerika Serikat menegaskan bahwa setiap tahunnya 80 ribu orang di Amerika memeluk Islam.

Pernyataan ini muncul dalam wawancara televisi di Saluran Budaya Nil, Fadel mengatakan: "Angka-angka ini didokumentasikan di pusat-pusat Islam di Amerika dan masjid-masjid Amerika,sebagaimana juga didokumentasikan oleh pusat-pusat studi resmi Amerika namun tidak diekspos, Sulaiman berkata: Tidak berjalan satu minggu saja melainkan ada beberapa orang Amerika yang memeluk Islam.

Dia menambahkan: Ada sambutan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya untuk Islam di Amerika.

Mantan Ketua DPR Amerika beberapa hari yang lalu telah memperingatkan adanya serangan budaya Islam yang luas terhadap budaya dan peradaban Amerika.

Permusuhan yang meningkat:

Fenomena ini muncul di tengah meningkatnya permusuhan terhadap Islam dari beberapa kelompok masyarakat Amerika yang dipengaruhi oleh ide-ide ekstrim kanan.

Permusuhan ini telah berkembang setelah pengumuman pembangunan pusat Islam di lokasi serangan 11 September dan persetujuan Presiden Amerika atas keputusan ini.

Kebanyakan kaum Muslimin di Amerika menampakkan ketakutan akan adanya penyerangan terhadap mereka saat peringatan serangan 11 September tahun ini karena bertepatan dengan hari raya Idul Fitri.

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron

Selengkapnya...

Madame Fatima: Tak Jadi Masuk Biara Setelah Mendengar Kalimat “Allahu Akbar”

Trinidad [koranmuslim.com] Kisah Madame Fatima Mil Davidson mendapatkan hidayah Islam terbilang unik. Seperti sebuah keajaiban, cahaya Islam itu menyentuhnya saat ia baru saja masuk ke kehidupan biara. Waktu itu ia memang sudah berniat untuk menjadi biarawati.
Saat ini Madame Fatima menjabat sebagai Menteri Pembangunan Sosial dan Pemerintah Lokal, Republik Trinidad dan Tobago, sebuah negara kepulauan di kawasan Laut Karibia bagian selatan. Pada majalah berbahasa Arab Men-bar-al-Islam di Kairo, ia menceritakan awal mula menemukan Islam dan bagaimana akhirnya ia menjadi seorang Muslimah.
“Saya membantah keras cerita yang mengatakan bahwa saya masuk Islam pada tahun 1975 dengan tidak mengakui ajaran Kristen. Sungguh, saya tidak bisa memahami dan menjelaskan apa yang saya alami. Saya akan mengajak Anda kembali ke tanggal 9 Maret 1950, hari yang sudah ditetapkan buat saya untuk masuk biara. Ketika saya bangun pagi di hari itu , saya merasa mendengar suara yang menyebutkan kalimat ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar’, suara itu terngiang-ngiang di telinga saya dan membuat seluruh tubuh dan hati saya bergetar,” kata menteri yang sebelum masuk Islam bernama Model Donafamik Davidson.
“Saya tidak begitu tahu, itu apa. Tapi hari itu saya menolak masuk ke biara. Setelah itu, menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari petunjuk Tuhan, sampai akhirnya saya menemukan Al-Quran dengan terjemahannya. Lalu, dengan mudah saya menaruh kepercayaan pada terjemahan Al-Quran yang saya baca,” sambungnya.
Secara kebetulan, Madame Fatima kemudian bertemu dengan seorang cendikiawan muslim asal Pakistan Maulana Siddiq dan ulama dari India Syaikh Ansari. Ia terlibat pembicaraan yang mendalam dengan kedua ulama itu, tentang budi pekerti dan apa yang dirasakan dalam hatinya. Begitu banyak pertanyaan detil yang diajukan Madame Fatima, hingga kedua ulama berseru, “Alhamdulillah, Anda seorang muslim ! Anda sekarang seorang muslim. Bacalah apa yang Anda sukai, masuklah ke masjid dan berdoa. Kami siap menerima Anda, kapanpun Anda merasa ingin belajar apapun.”
Madame Fatima merasa gembira dengan respon kedua ulama tersebut. “Saya bahagia. Setelah hari itu, saya merasa hati saya dilimpahi dengan keimanan dan rasa cinta serta kebanggaan terhadap Nabi Muhammad Saw,” ujarnya.
Meski demikian, Madame Fatima mengaku baru secara resmi memeluk Islam sekitar tahun 1975. “Sampai sekarang, sudah 36 tahun saya menjadi seorang muslim. Sejak saya mendengar suara misterius yang menggetarkan kalbu, dan lalu saya menolak masuk biara. Hati saya sudah memproklamirkan Allahu Akbar,” tukasnya.
“Saya menjadi gadis pertama dari komunitas kulit berwarna yang masuk ke masjid. Dan ini mendorong banyak remaja muslimah untuk juga datang ke masjid-masjid untuk salat, khususnya ke Masjid Anjuman Jami’ Sanatal yang didirikan oleh ulama besar Dr. Syaik Ansari di kota Francis di Trinidad. Masjid itu sekarang dipimpin oleh Al-Haj Shafiq Muhammad,” tutur Madame Fatima.
Ia juga menceritakan bahwa warga di lingkungannya masih berpikir bahwa Islam adalah agama orang India, yang memiliki ajaran dari beragam kepercayaan dan agama. “Dalam perkembangannya, di kalangan warga pribumi, kebanyakan yang berasal dari Afrika, makin banyak yang memeluk Islam. Rasio warga muslim meningkat hingga 13 persen dari total penduduk Republik Trinidad dan Tobago. Selebihnya, 31 persen penduduk negara ini beragama Kristen, 27 persen beragama Protestan, 6 persen pemeluk agama Hindu dan 23 persen pemeluk keyakinan lainnya, ” papar Madame Fatima.
Lalu, apakah keislamannya membawa dampak pada pekerjaannya sebagai salah satu pejabat di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim? Menjawab pertanyaan ini, Madame Fatima menjawab, “Islam mengajarkan kita untuk ikhlas dan efisien dalam menjalankan pekerjaan dan saya mempraktekkan ajaran Islam dengan tulus …”
“Saya tidak berbohong, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi saya. Saya berusaha menghindari segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam, semampu saya dan dengan kesadaran diri yang kuat. Jadi, dampak keislaman saya pada pekerjaan, tidak lain hanyalah semua pekerjaan saya berjalan baik dan penuh rahmat. Mantan perdana menteri bahkan menganjurkan saya untuk berkunjung ke Mesir, tempat sekolah Islam terkenal Al-Azhar dan salah satu pusat peradaban. Dia suka membicarakan Islam juga,” ujar Madame Fatima.
Ia sungguh beruntung, karena perdana menteri yang sekarang menjabat, mengizinkannya berkunjung ke Mesir terkait tugasnya sebagai menteri pembangunan sosial dan pemerintahan lokal. “Perdana Menteri juga menganjurkan saya mengunjungi Al-Azhar dan Mahkamah Tinggi Agama Islam,” imbuhnya.
Madame Fatima beberapa kali berpartisipasi dalam pemlu parlemen dan sukses. Ia pernah menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Ia menjadi teladan sebagai seorang muslim yang mampu menunjukkan kemampuannya di bidang politik.
“Hal penting yang harus Anda ketahui, Republik Trinidad dan Tobago memberikan hari libur resmi pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Komunitas Muslim bebas menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, baik di rumah maupun di masjid-masjid,” jelas Madame Fatima.
Sebagai bagian dari umat Islam, ia menyerukan dunia Islam untuk bersatu dibawah bendera Islam agar posisi dunia Islam dan kaum Muslimin menjadi kuat. “Allah Yang Mahabesar telah membimbing saya ke jalan Islam dan saya berdoa padaNya untuk membimbing umat Islam ke arah persaudaraan dan perdamaian, agar umat Islam menjadi masyarakat terbaik di masa kini, dan sudah menjadi inspirasi bagi umat manusia,” tandas Madame Fatima. (ln/SP)

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron

Selengkapnya...

Rabu, 10 Agustus 2011

Hari Kelima Ramadhan, 195 Ekspatriat di Kuwait Nyatakan Diri Masuk Islam

Hari Kelima Ramadhan, 195 Ekspatriat di Kuwait Nyatakan Diri Masuk Islam
Tokoh agama Kuwait bersama Muslim berkebangsaan Yunani

REPUBLIKA.CO.ID, MANAMA - Sekitar 195 orang menyatakan diri masuk Islam dengan bersyahadat di hari kelima Ramadhan. Mereka adalah para ekspatriat yang beberapa tahun ini bertugas dan tinggal di negeri itu.

"Jumlahnya akan terus bertambah,” kata Jamal Al Shatti, pimpinan The Committee to Promote Islam, organisasi yang menghimpun dan memberi pendampingan bagi mualaf.

"Kami percaya bahwa lebih banyak orang akan mengumumkan konversi mereka sebelum akhir bulan," katanya dalam sambutannya, seperti dikutip oleh harian Kuwait, Al Watan.

Komite ini pantang dengan ide-ide kekerasan. Mereka mempromosikan Islam melalui kata-kata yang baik dan perbuatan, katanya.

Kuwait adalah sebuah negara mayoritas Muslim, tetapi ribuan non-Muslim, terutama orang asing dari negara-negara Asia, tinggal di negara ini.

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
Selengkapnya...

Selasa, 09 Agustus 2011

Ratusan Orang Jadi Mualaf di Masjid Al Azhar Jakarta, Mereka Bilang Islam Agama Menenangkan

Ratusan Orang Jadi Mualaf di Masjid Al Azhar Jakarta, Mereka Bilang Islam Agama Menenangkan
Masjid Al Azhar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar mengislamkan mualaf rata-rata 100 orang tiap tahunnya. Dalam kurun 10 tahun belakangan, Lembaga Muqtadin Al Azhar (LMA) sudah mengislamkan sekitar 1.000 mualaf.

“Tahun ini saja sudah 63 orang yang masuk Islam di Al Azhar,” ungkap Hartono, Takmir Masjid Al Azhar. Menurut Hartono, paling banyak alasan mualaf masuk Islam karena melihat Islam dari sisi rasional.
Mereka melihat Islam sebagai agama yang memberi ketenangan dan kedamaian. “Banyak yang masuk Islam karena melihat ketenangan dan kedamaian dalam Islam,” terangnya.

Ada juga alasan mualaf masuk Islam karena menikah. Menurut Hartono, dibutuhkan pengarahan agar alasan karena menikah dijadikan alasan kedua. Al Azhar mengkhawatirkan jika nanti ada masalah selama masa pernikahan menjadikan mualaf kembali ke agama sebelumnya. “Maka kita beri pengarahan dulu agar kalau ada masalah di pernikahannya, mualaf tetap Islam,” tambahnya.

Al Azhar mencatat 70 persen mualaf berasal dari Indonesia. Sisanya dalah warga negara asing. “Warga negara asing paling banyak dari Amerika, Inggris, Perancis, Jepang dan Korea,” ungkap Hartono.

Menurut Hartono, Al Azhar juga memfasilitasi mualaf dengan Islamic Study. “Kita ada kegiatan mualaf, kajian untuk mualaf, juga belajar membaca Qu’an untuk mualaf,” tambah Hartono. Untuk syarat mualaf, menurut Hartono hanya syarat administrative seperti fotocopy KTP dan Kartu Keluarga. “Yang paling mutlak bagi laki-laki untuk menjadi mualaf harus sudah dikhitan,” ungkatnya.

Hartono menambahkan, ada mualaf yang mengaku hidupnya menjadi lebih baik setelah masuk Islam. “Dia cerita pada saya setelah masuk Islam hidupnya jadi ebih baik. Dan dia juga membawa temannya masuk Islam di Al Azhar,” tambah Hartono

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
Selengkapnya...

Senin, 08 Agustus 2011

Awalnya Catherine Huntley Sembunyi-Sembunyi Shalat Lima Waktu

 Quantcast

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON–”Orang tua saya selalu mengira saya tidak normal, bahkan sebelum saya menjadi seorang Muslim. Pada remaja awal saya, bila mereka  menemukan saya menonton TV pada Jumat malam maka mereka berkata, “Apa yang kamu lakukan di rumah? Apakah kau tidak punya teman untuk pergi keluar? ” Catherine Huntley, 21 tahun, berkisah masa lalunya.
Padahal, katanya,  yang benar adalah, “Saya tidak suka alkohol, saya belum pernah mencoba merokok, dan saya tidak tertarik pada anak laki-laki Inggris kebanyakan.” Ini berlangsung sejak dulu, sejak dia remaja.
Catherine adalah gadis pendiam. Dia juga cerdas. Baginya, ketimbang keluyuran tidak jelas, mendingan duduk di belakang laptop; berselancar di dunia maya. Hingga suatu hari, ia terpaku pada sebuah situs keislaman. Ia mencoba mencari tahu ke situs-situs lainnya. “Saya bisa menghabiskan waktu makan siang setiap membaca tentang Islam pada komputer. Damai di dalam hati saya dan tidak ada lagi yang lebih penting selain itu,” ujar asisten ritel yang tinggal di Bournemouth, Inggris ini.
Baginya, ajaran Islam sungguh memesona. Tak puas hanya berselancar, diapun mulai rajin mengoleksi buku-buku keislaman. Terjemah Alquran sudah dimilikinya sejak awal pertama berselancar dan menemukan damai  yang dimaksudnya. “Saya tidak pernah bertemu  seorang Muslim sebelumnya, jadi saya tidak punya prasangka,” ujarnya.
Suatu hari, ia mendiskusikan apa yang dibacanya dengan orangtuanya.  “Tetapi orangtua saya tidak begitu berpikiran terbuka. mereka ngeri dan berkata, ‘Kita akan membicarakannya bila nanti kau berusia 18 tahun,” ia mengisahkan.
Namun, gairah mempelajari Islam menyala-nyala dalam diri Catherine. Tak cukup membeli buku-buku keislaman, ia pun muklai mengoleksi baju-baju panjang dan kerudung. “Semua saya simpan rapi dalam laci,” tambahnya.
Ia pun mulai berpakaian lebih sederhana dan diam-diam berpuasa selama bulan Ramadhan. Ia mengaku seperti menjalani kehidupan ganda,  sampai suatu hari, ketika berumur 17 tahun, ia merasa tidak bisa menunggu lebih lama lagi. “Saya menyelinap keluar rumah, meletakkan jilbab saya dalam sebuah tas dan naik kereta ke Bournemouth. Tujuannya satu, saya akan berikrar sebagai seorang Muslim.”
Seminggu setelah bersyahadat, sang ibu datang ke kamarnya dan berkata,” Apakah kau punya sesuatu untuk dikabarkan padaku?” Dia menarik sertifikat mualaf dari sakunya. Bagi orangtuanya, mereka lebih suka menemukan hal lain pada saat itu – obat-obatan, rokok, kondom – tapi bukan sertifikat mualaf dan jilbab.
“Mereka hingga kini tidak bisa memahami mengapa saya  menyerahkan kebebasan saya demi sebuah agama asing. Mengapa saya ingin bergabung semua teroris dan pelaku bom bunuh diri,” ujarnya.
Namun, ia bertahan. Walau diakuinya, sangat sulit menjadi satu-satunya Muslim dalam keluarga pembenci Muslim, dan menempatkannya menjadi “musuh keluarga”. Dia mengaku melakukan shalat secara sembunyi-sembunyi, persis di depan pintu kamar, sehingga setidaknya, sang kakak akan terganjal saat ia mencoba masuk ke kamar. Atau, sang ibu tiba-tiba akan menjadi sangat aktif bicara saat dia sedang shalat, sehingga mau tak mau ia harus sering berhenti untuk menyahuti pertanyaannya.
Ia mulai tak nyaman ketika mereka terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya pada Islam. Misalnya saja, saat membaca tulisan tentang cadar di koran, ibunya berkata, “tak lama lagi Catherine akan menjadi seperti itu.”
Puncaknya, saat sang kakak mengolok-olok perempuan Muslim yang  selalu berjalan tiga langkah di belakang suaminya.  “Mendapat ini saya benar-benar marah, karena itu  budaya, bukan agama. Tunangan saya, yang saya temui delapan bulan lalu, dari Afghanistan dan ia percaya bahwa seorang wanita Muslim adalah mutiara dan suaminya adalah kerang yang melindungi dia.”
Ia pun memutuskan keluar dari rumah itu.
Kini, Catherine tengah bersiap menikah. Dia mengundang keluarganya, tapi tak banyak berharap mereka akan datang.” Sungguh menyakitkan berpikir saya tidak akan pernah memiliki pernikahan seperti dalam dongeng, dikelilingi oleh keluarga saya. Tapi saya berharap hidup baru saya dengan suami saya akan jauh lebih bahagia. Aku akan membuat rumah yang sejuk dan damai,  tanpa harus merasakan sakit orang menilai saya.”
Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
Selengkapnya...

Wanita Atheis Skotlandia Ini Menemukan Islam pada Usia 65 Tahun

  Wanita Atheis Skotlandia Ini Menemukan Islam pada Usia 65 Tahun

REPUBLIKA.CO.ID, Nama Islaminya adalah Maryam Noor. Sedangkan nama aslinya adalah Margaret Templeton.
Wanita ini lahir di Skotlandia dan tumbuh besar di keluarga atheis sehingga ia pun tak percaya Tuhan. Dalam rumahnya anggota keluarga dilarang berbicara tentang Tuhan. "Bahkan ketika kami belajar di sekolah, kami tak dibolehkan menyoal itu di rumah, bila tidak kami dihukum."

Namun sejauh yang bisa ia ingat, Maryam selalu berupaya mencari Kebenaran mengapa ia hidup di dunia. "Mengapa saya hidup dan apa yang seharusnya saya lakukan."

Ketika ia cukup dewasa, ia mulai mencari beberapa informasi tentang 'sosok  yang disebut Tuhan' yang selalu disebut oleh orang-orang dan didengar Maryam selama hidupnya. "Saya mencari Kebeneran, bukan agama tertentu," tutur Maryam.

"Kebenaran yang masuk akal bagi saya, sesuatu yang membuka hati saya dan membuat saya layak untuk hidup," ujarnya. Saat mencari ia memasuki setiap jenis gereja baik di Inggris maupun dekat rumahnya. "Tak pernah sebelumnya terbesit untuk berpikir tentang Islam."

Maryam tertarik dengan Islam, namun saat itu perang tengah berkecamuk di Irak dan ia membaca banyak hal mengerikan tentang Muslim di surat kabar. "Saya merasa berpengalaman dan memiliki pendidikan dalam mempelajari agama lain, sehingga saat itu pun saya berpikir semua itu tak benar," ungkap Maryam.

Ia pun mencari seseorang yang bisa mengajarinya dan memberi tahunya tentang Islam dan cara hidup berdasar agama ini. "Sehingga saya bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang berasal dari tipu daya setan," tutur Maryam.

Satu hal yang selalu ia lakukan selama pencarian, ia sellau berbicara dengan siapa pun dan tersenyum dan menyapa setiap orang. " Saya berkata 'Halo', 'Bagaimana kabarmu?', 'Bagaimana harimu?', karena Yesus selalu menyebarkan kebahagiaan di mana pun dan kapan pun ia berada. Saat itu saya penganut Katholik Roma," ungkap Maryam.

Namun ia merasa tak bahagia dengan agama tersebut dan akhirnya meninggalkan gereja. "Tapi saya tak tahu kemana lagi harus pergi," ujarnya.

Di saat bersamaan ia tengah mencari pula guru Islam. "Saya berdoa setiap saat, setiap hari kepada Tuhan 'Bantu aku, bantu aku, bantu aku'. Ia lakukan itu berulang-ulang, terus menerus selama dua tahun. "Karena saya tak tahu apa yang harus diperbuat dan pergi ke mana," ungkap Maryam.


Hingga suatu hari seorang kawan dari temannya membawa seorang yang alim ulama. Namanya Nur El-Din. Ia adalah seorang Arab yang lahir di negara itu. Ia mengundang Maryam untuk datang ke rumahnya dan memberi tahu buku apa yang harus dibeli dan apa yang harus ia lakukan. Bahkan Nur membuka diri untuk dihubungi kapan saja bila Maryam memiliki pertanyaan. "Itulah hubungan kami, ada tujuh volume buku yang saya baca mengenai tafsir dan terjemahan terhadap Al Qur'an dan buku itu sangat luar biasa."

Maryam pun mulai mengkaji Islam. Ia membuka buku pertamanya dan membaca kata pengantar. Ia tidak memulai dari belakang, melainkan dari depan. Ia langsung menuju surah Al Baqarah.

Sebelum Al Baqarah terdapat Surah Al Fatihah. Rupanya Maryam kembali ke awal lagi dan membaca umul kitab tersebut. "Begitu saya membaca, rasanya seperti tersambar. Air mata saya bercucuran. Hati saya berdebar keras, saya berkeringat dan gemetar," tutur Maryam.

Awalnya ia takut itu adalah godaan setan. "Seperti ia mencoba menghentikan saya karena saya mungkin menemukan jalan, karena buku ini mungkin membukakan saya menuju Kebenaran, sesuatu yang selama ini saya cari," ujarnya.

Maryam pun langsung menelpon Nur El-Din. "Ia berkata datanglah saya ingin bertemu kamu. Saya pun pergi ke tempatnya. Saat itu musim dingin, begitu sampai rasanya tubuh saya seperti balok es," ungkapnya.

Ia menuturkan pengalaman kepada Nur El-Din. "Saya berkata padanya ini pasti ulah setan, apa yang harus saya perbuat?" ujarnya. Maryam menuturkan kala air matanya bercucuran ia bisa melihat jelas ke dalam hatinya, begitu besar, merah--alih-alih terang, dan tidka berbentuk sama sekali. "Saya sangat takut," ujarnya.

Nur El-Din pun berkata padanya, "Margaret, dikau akan menjadi seorang Muslim." Maryam membalas, "Tapi saya tidak membaca buku-buku ini untuk menjadi seorang Muslim. Saya membaca demi membantah semua kebohongan yang telah disebarkan di media mengenai Muslim," ujarnya. "Saya tak ingin menjadi Muslim," kata Maryam lagi.

Namun Nur El-Din tetap pada keyakinannya. "Margeret dikau akan menjadi Muslim karena, baiklah saya harus memberi tahumu bahwa ada campur tangan kekuatan Tertinggi dalam hidupnya. "Saat itu saya berusia 65 tahun. Kini saya 66 tahun dan saya telah menjadi Muslim selama satu tahun."

Ia akhirnya melakukan kajian lebih dalam lagi dengan si ulama mulai November hingga Februari. Akhirnya ia tak bisa menahan diri untuk bersegera mengucap syahadat. Saat dorongan itu timbul Maryam sempat bertanya apakah itu tak terlalu terburu-buru baginya.

"Anda tahu, ketika bertanya itu, alasannya bukan lagi karena saya tak mau menjadi Muslim. Saya telah meyakini bahwa Allah akan selalu mengampuni hambanya, yang saya pikirkan saya terlalu kecil, terlalu banyak dosa, dan hidayah itu rasanya hadiah terlalu besar bagi saya yang tak seberapa," tutur Maryam.

Nur El Din hanya berkata satu kata "Nur". Saat itu 11 Februari 2003, Maryam duduk sedikit jauh dari Nur El Din yang berpakaian serba putih mulai. "Ulangi persis seperti yang saya ucap," ujar Nur El Din. Ia mengucapkan syahadat yang langsung diulang oleh Maryam.

Usai mengucap syahadat Maryam bertanya, "Apa yang barusan saya ucapkan?". Nur El Din memaparkan artinya dalam Bahasa Inggris. Setelah itu ia pun resmi menjadi Muslim dan mengganti namanya dengan Maryam.

"Saya tak bisa berkata bahwa saya Muslim yang baik, karena itu luar biasa sulit," ungkap Maryam. "Saya kehilangan semua teman Katholik, semua teman mengobrol saya. Bahkan putri saya menganggap saya gila. Satu-satunya yang percaya saya adalah putra saya yang mengatakan mungkin saya menemukan Kebenaran. Ia adalah salah satunya yang mungkin menyusul saya menjadi Muslim," ungkapnya.

Tantangan terberat yang dirasakan Maryam adalah tempat tinggal di mana ia hidup di dunia sekuler, bukan dunia Muslim. "Dengan sepenuh hati, saya ingin tinggal di dunia Muslim dan memiliki komunitas Muslim. Saya satu-satunya Muslim yang tinggal di kawasan ini. Namun Allah selalu baik kepada saya karena ditengah kesulitan, saya tetap bahagia dan terus memiliki kesempatan belajar,"

Maryam mengaku kini membaca Al Qur'an dalam terjemahaan Bahasa Inggris. "Usia saya sungguh membuat saya sulit menghafal jadi saya menggunakan buku terjemahan. Dan saya memohon pada Allah, 'Mohon Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyanyang, saya hanyalah seorang bayi berusia 65 tahun dan saya memiliki kesulitan dan bantulah aku," setiap saya berdoa itu saya selalu menemukan jalan. Ia benar-benar membantu saya."

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
Selengkapnya...

Ketika Sukina Douglas Pilih Tukar Rambut Gimbal dengan Jilbab

    Ketika Sukina Douglas Pilih Tukar Rambut Gimbal dengan Jilbab

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--"Islam merendahkan perempuan? Anda baca lagi literaturnya dengan benar," ujar Sukina Douglas. Mendengar penyair muda Inggris ini bertutur tentang Islam, orang tak akan menyangka dia belum lima tahun menjadi Muslim.

Sebelumnya, ia selalu menggeleng ditanya agama. "Sebelum saya menemukan Islam, pandangan saya tegas tetap pada Afrika. Agama saya Afrika. Saya  dibesarkan sebagai seorang Rastafarian dan memiliki rambut gimbal panjang: satu setengah pirang dan setengah lainnya hitam," ujarnya.

Kemudian, pada tahun 2005, mantan pacarnya kembali dari perjalanan ke Afrika dan mengumumkan bahwa ia akan masuk Islam. Saat itu dia sangat marah dan mengatakan bahwa dia telah 'kehilangan akar Afrika'-nya. "Mengapa ia mencoba untuk menjadi orang Arab? Setiap kali saya melihat seorang wanita Muslim di jalan saya berpikir, mengapa mereka harus ditutp-tutup seperti itu? Bukankah mereka panas?" ujarnya mengisahkan.

Namun diam-diam, ia melahap buku-buku keislaman. "Ketika saya mulai membaca otobiografi Malcolm X di universitas, sesuatu  terbuka dalam diri saya. Suatu hari saya  berkata kepada seorang sahabat, Muneera, 'Aku jatuh cinta dengan Islam. "Dia tertawa dan berkata," Jadilah tenang, tak usah terburu-buru!"

Selain kisah Malcolm X, ada satu yang menarik perhatiannya. "Saya selalu bersemangat tentang hak-hak perempuan; tidak ada cerita saya  memasuki agama yang berusaha untuk merendahkan perempuan. Jadi, ketika saya membaca sebuah bukuyang ditulis seorang feminis Maroko,  terurailah semua pendapat negatif saya tentang Islam, bahwa agama ini tidak menindas perempuan."

Ia belum memutuskan untuk menjadi Muslim, ketika ia coba-coba berpenampilan seperti Muslimah. Ia mencoba mengenakan rok model Gypsy, dan bertudung kepala juga ala Gypsy. "Tapi aku tidak merasa lusuh, aku merasa cantik. Aku sadar, aku bukan komoditas seksual bagi pria untuk nafsu birahi mereka, tiba-tiba saya betul-betul jatuh hati pada agama ini."

Ia pun bersyahadat. Tak mudah bagi Sukina setelah itu, karena tiga minggu setelah menjadi Muslim, bom meledak di London. "Saya tidak pernah mengalami rasisme di London sebelumnya, tetapi dalam minggu-minggu setelah bom, orang-orang akan melemparkan telur pada saya dan berkata, 'Kembalilah kepada negara Anda sendiri'. Mana negara saya? Negara saya ya Inggris," ujarnya.

Setelah menjadi Muslim, ia menemukan "masa depan"-nya. Saat sang pacar memutuskan menjadi Muslim, mereka berpisah. Ketika ia menjadi Muslim, Sukina mencoba membuka hati lagi bagi sang mantan. "Kini dia menjadi suami saya," ujarnya tersenyum.

"Sebelum saya menemukan Islam, saya adalah seorang pemberontak tanpa alasan, tapi sekarang saya punya tujuan hidup: saya bisa mengidentifikasi kekurangan saya dan bekerja untuk menjadi orang yang lebih baik. Bagi saya, menjadi seorang Muslim berarti memberikan kontribusi pada masyarakat, tidak peduli di mana Anda berada dan dari mana Anda berasal."

Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
Selengkapnya...

Catherine Heseltine, Semula Bilang: Menjadi Muslim? Tidak, Terima Kasih!

Catherine Heseltine, Semula Bilang: Menjadi Muslim? Tidak, Terima Kasih! 
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--"Jika kau bertanya padaku pada usia 16 apakah aku ingin menjadi seorang Muslim, aku akan berkata," Tidak, terima kasih. Agamaku adalah minum-minum, berpesta dan aku nyaman dengan teman-temanku," ujar Catherine Heseltine, sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Tumbuh di London Utara, Catherine tidak pernah mempraktikkan agama apapun di rumahnya. Besar dalam lingkungan kelas menengah terpelajar, agama bagi keluarga ini dianggap "sedikit kuno dan tidak relevan".

Hingga suatu hari, guru sekolah tumbuh kembang ini bertemu seorang pemuda bernama Syed. Pemuda ini, diakuinya, beda dengan laki-laki yang pernah dikenalnya. "Ia menantang semua prasangkaku tentang agama. Dia masih muda, Muslim, sangat percaya pada Tuhan - dan sialnya, ia sangat "normal", sama seperti pria seusianya. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa, tidak seperti kebanyakan pemuda Inggris,  dia tidak pernah minum minuman keras."

Bagi Catherine, diskusi-diskusi dengan Syed membuatnya seperti ditampar. Menurutnya, seorang penganut agnotism akan menyadari bahwa menjadi pribadi tanpa agama adalah juga sebuah keyakinan; yakin Tuhan tak ada. "Kalau bagiku, bahkan Tuhan ada  tidak pun, aku tak pernah peduli."

Setahun kemudian, ia jungkir balik dengan pemikirannya. Sampai akhirnya diam-diam ia menyadari, mulai jatuh hati pada Syed dan Islam. Entah ia jatuh hati lebih dulu pada Islam kemudian baru Syed, atau sebaliknya. Yang jelas, ia yang makin penasaran kian rajin membaca buku-buku keislaman.

Apa yang paling menarik perhatiannya dari semua literatur yang dibacanya? "Alquran. Kitab ini sangat  menarik dari sisi  intelektual, sisi emosional, dan spiritual. Aku menyukai  penjelasannya tentang alam semesta dan menemukan bahwa 1.500 tahun yang lalu, Islam telah memberikan hak-hak perempuan yang tak dimiliki di sini, di dunia Barat ini. Aku makin yakin Alquran betul-betul sebuah wahyu."

Namun, menyatakan keislaman, dia belum sanggup. Baginya, berislam bukan sekadar bersyahadat, atau demi mendapatkan apa yang kita inginkan -- dalam konteks Catherine adalah mendapatkan Syed sebagai suaminya. "Agama ini benar-benar cool. Tapi selama tiga tahun aku menyimpan minat  dalam Islam untuk diriku sendiri," ujarnya.

Sampai kemudian, timbul keberanian untuk bersyahadat saat kuliah di tahun pertama. Di tahun yang sama, karena alasan tak ingin berlama-lama pacaran, ia memutuskan menikah.  "Reaksi awal Ibuku adalah, "tidak dapatkah kau hidup bersama saja dengannya tanpa menikah?" Bagi ibuku ia agak keberatan," tambahnya.

Bagi ibunya, rumah tangga Muslim adalah rumah tangga yang menindas istri. Namun ia sudah bulat tekadnya. "Kini aku sudah lima tahun lebih  menjadi Nyonya Syed dan ibuku tak menemukanku dirantai di dapur," ujarnya terbahak-bahak.

Beda dengan Joanne atau Sukina (kisahnya ditulis di Republika Online dalam serial ini) yang berjilbab begitu bersyahadat, Catherine pada awal keislamannya belum sepenuhnya berjilbab. Di acara-acara keagamaan, ia mengenakan jilbab. Namun dalam kesehariannya, dia mengenakan bandana atau topi untuk menutupi rambutnya.

Ia beralasan, sengaja tampil demikian untuk menarik perhatian ketika tengah berada di rumah makan, tempat belanja, atau dimanapun ia berada di luar rumah. Ketika orang bertanya, maka akan mudah baginya untuk bercerita tentang Islam.

"Sepertiku, aku ingin orang bertahap mengadopsi ajaran Islam. Aku juga ingin orang menilaiku  pertama kali dari kecerdasan dan karakterku, bukan agamaku. Ini aku sebut sebagai syiar."



Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
Selengkapnya...

Sunita Williams Kejaiban Dibulan


Sunita Williams wanita pertama India yg pergi ke Bulan tgl 9/7/2011 sekembalinya kemarin langsung memeluk ISLAM. Dia berkata,dari Bulan,seluruh bumi kelihatan hitam dan gelap kecuali 2 tempat yang terang   dan bercahaya ketika aku lihat dengan teleskop.Dan tempat itu adalah MAKKAH & MADINAH. Dan di Bulan semua frekuensi/suara tidak berfungsi (tidak bisa di dengar),tapi aku masih mendengar suara 'ADZAAN')
اَللّهُ
اَكْبَرُ،... اَللّهُ اَكْبَرُ،... اَللّهُ اَكْبَرُ،.
 
Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
Selengkapnya...

Jumat, 05 Agustus 2011

Pindah Agama, Lindsay Wheeler Pernah Diteriaki "Bajingan Kulit Putih"

   
.Pindah Agama, Lindsay Wheeler Pernah Diteriaki

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--"Sebagai seorang remaja saya pikir semua agama adalah menyedihkan. Pandangan saya saat itu adalah: apa gunanya menempatkan pembatasan pada diri sendiri? Anda hanya hidup sekali di dunia ini," kata Lindsay Wheeler, peraih BSc bidang psikologi pada De Montfort University mengisahkan masa mudanya.

Bagi wanita yang kini berusia 26 tahun, hidup sekali harus diisi dengan "kebahagiaan". Yang dilakukannya untuk bahagia saat itu adalah: mabuk-mabukkan, berpenampilan mengikuti tren terkini, dan melakukan apa saja yang ingin dilakukan.

Namun ketika pola pikirnya makin tertata saat memasuki bangku universitas, ia mulai mencari makna hidup. "Minum-minum, clubbing, dan kebiasaan lama lainnya makin menjadi aktivitas yang membosankan. Apa gunanya semua itu?" ia menyatakan pikirannya saat itu.

Saat dalam kondisi penuh tanda tanya, wanita yang kini tinggal di Leichester, Inggris ini bertemu Hussein. "Saya tahu dia seorang Muslim, dan kami saling  jatuh cinta. Saya mencoba memasukkan seluruh masalah agama 'di bawah karpet', tapi tak bisa," ujarnya.

Ia pun makin rajin melahap buku-buku keislaman. "Saya ingat, saat itu tangis saya meledak ketika saya berpikir, 'Ini bisa jadi arti seluruh kehidupan'. Menjadi Muslim artinya menjalani hidup secara terarah," ujarnya.

Ia mencoba masuk dalam komunitas Muslim. Berada di tengah mahasiswi berjilbab, ia merasa tenteram. "Mereka benar-benar mengubah pandangan saya. Mereka berpendidikan, cerdas, dan sukses. Saya menemukan jilbab yang membebaskan," ujarnya. Tak perlu pikir panjang, tiga pekan kemudian ia bersyahadat dan resmi masuk Islam.

"Ketika saya bilang pada  ibu saya beberapa minggu kemudian, dia menerima. tapi dia membuat beberapa komentar seperti, "Mengapa kau mengenakan kerudung itu? Kau punya rambut indah," ujarnya.

"Teman saya yang terbaik di universitas sepenuhnya dihidupkan saya: dia tidak bisa mengerti bagaimana satu minggu saya keluar clubbing, dan berikutnya aku diberi segalanya dan masuk Islam. Dia terlalu dekat dengan kehidupan lama saya, sehingga saya tidak menyesal kehilangan dia sebagai teman.

Begitu menjadi Muslimah, ia memilih nama Aqeela untuk dipasang di depan nama lamanya. "Aqeela berarti 'masuk akal dan cerdas' - dan itulah yang saya  cita-citakan ketika  masuk Islam enam tahun lalu. Saya menjadi seseorang yang baru: semuanya harus dilakukan  Lindsay di masa lalu,  sudah terhapus dari ingatan saya," ujarnya.

Apa yang tersulit setelah menjadi Muslim? Ia menggeleng. Semuanya bisa disesuaikan, kecuali  mengubah cara  berpakaian. "Saya selalu sadar mode. Pertama kali saya mencoba jilbab, saya ingat duduk di depan cermin, berpikir, "Apa yang aku harus meletakkan sepotong kain di atas kepalaku?" Tapi sekarang saya akan merasa telanjang tanpa itu."

Memakai jilbab, katanya,  mengingatkan dirinya bahwa semua yang  perlu dilakukannya setiap saat  adalah melayani Tuhan dan rendah hati. Jilbab juga mengingatkan bahwa ia adalah  duta Islam dimanapun dia berada.

Cobaan paling berat dialami setelah bom meledak di London. Saat itu, Muslim berada di titik terendah dalam hubungan sosial di Inggris. "Saat berjalan di luar rumah, selalu saja ada teriakan, atau bahkan ada yang menyebut saya "bajingan kulit putih". Saya pernah merasa takut keluar rumah karenanya," ujarnya.

Kini, ia menjadi Nyonya Hussein dengan satu putra berusia 1 tahun, Zakir. Ia masih menyimpan cita-cita sebagai psikolog, "Tapi saya menunggu Zakir siap ditinggal di rumah sementara saya bekerja," ujarnya.
 

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Berbagai Sumber
Untuk keperluan Dakwah Islam dan
Penyebarluasan ajaran Al-Qur'an dan As-sunnah
Salurkan Bantuan Donasi, Infaq dan Shadaqah ikhwatu iman  
Costa Rika Muallaf Comunity,
Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose
# 5106-272-878 (costa rika) melalui rekening :

BANK CENTRAL ASIA [B.C.A]
KCP KREKOT
NO REK : 752-011-3082 a/n Rochmat*

*Rekening milik saudara kami yang berada di Indonesia
Atas dukungan, sumbangan dan bantuan Anda
kami ucapkan ribuan terima kasih,
INSYA ALLOH amanah menyalurkan kepada yang berhak,
Hanya ALLOH SWT yang dapat membalas segala amal ibadah
dan ketulusan hati saudara sekalian.

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.
Jazaakumullahu khoiron
Selengkapnya...